Mengkijing Kuburan dan Menancapkan Batu Nisan (bagian 1)

Setiap yang bernyawa, pastilah akan merasakan fase di mana saat arwah meninggalkan jasadnya, “Kematian” yaps itulah namanya. Cara Islam memuliakan manusia yang sudah wafat (mayit) adalah bersama dengan cara memerintahkan lebih dari satu dari saudaranya yang masih hidup untuk menjaga jenazah, dan juga menguburkannya.

Namun, lebih dari satu orang karena rasa cintanya kepada mayit, atau rasa takdzim-nya, ia senantiasa memuliakan mayit bersama dengan cara memperlakukan mayit bak orang yang masih hidup. Termasuk salah satunya, bersama dengan cara sebabkan daerah teduh di atas kuburnya, atau yang biasa disebut bersama dengan Kijing.

Lantas, Apa hukum dari pemasangan kijing di atas kuburan menurut kacamata syari’at? Juga, apa hukum dari penancapan batu nisan di atas kubur?

Hukum menempatkan kijing (bangunan) di atas kubur.

Sebelum kami masuk ke inti dari jawaban, eloknya kami memahami lebih-lebih dahulu, “Apa maksud dari kijing itu sendiri?”

Dalam KBBI, kijing ialah “Sejenis batu-bata atau semen penutup makam yang menyatu bersama dengan nisannya. Umumnya menyisakan anggota sedang (tanah) kubur. Fungsinya pada kubur sama layaknya kegunaan pigura membingkai foto.”Maka, hukum menempatkan ‘kijing’ ini, Ulama memperinci lebih-lebih dahulu:

Pertama, terkecuali kubur berikut adalah kubur dari Para Nabi, Syuhada’ (Mati Syahid), dan Orang-orang Shalih, maka hukum mengkijing ataupun sebabkan bangunan di atas pusara mereka adalah “Boleh”. Pendapat ini dikemukakan oleh Al-Imam Barmawi, Imam Bujairimy, Imam Halaby dan Imam Rahmani:

نعم استثنى بعضهم قبور الأنبياء والشهداء والصالحين ونحوهم برماوي وعبارة الرحماني:نعم قبور الصالحين يجوز بناؤها ولو بقبة الأحياء للزيارة والتبرك،قال الحلبي: ولو في مسبلة وأفتى به

“(Dikecualikan dari larangan pengkijingan makam) Jika makam berikut ialah makam dari: Para Nabi, Syuhada’, atau orang-orang sholih, maka diperbolehkan bersama dengan tujuan sebagai pembelajaran dan stimulus kepada umat akan kemuliaan mereka, hingga mampu menteladaninya, menziarahinya, dan bertabarruk dengannya.” (Hsy. Bujairimi, 2/297)

Jika Allah SWT saja menyelamatkan tubuh Fir’aun (makhluk celaka yang mencap dirinya sebagai tuhan) supaya hambaNya mengambil pelajaran darinya, hingga jadi kuatir untuk berbuat sepertinya. Dalam firman-Nya:

فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً ۚ

“Maka pada hari ini, kami selamatkan badanmu (Fir’aun) supaya kamu mampu jadi pelajaran bagi orang-orang yang mampir sesudahmu.” (QS. Yunus: 92)

Maka lebih-lebih utama makam-makam para Nabi dan orang solih, yang bersama dengan keberadaanya umat Islam lebih termotivasi lagi untuk meneladani sirah, manaqib dan juga tipe hidup mereka.

Sungguh, apa yang dilakukan lebih dari satu sekte-radikal islam, berupa pemboman atau penghancuran makam ulama maupun orang-orang sholih di lebih dari satu negara, merupakan suatu tindakan yang tidak bijaksana, bersama dengan tanpa memperhatikan alasan didirikannya bangunan berikut yaitu pembelajaran.


Atau mungkin, mereka punyai tujuan lain, sepert “menjauhkan umat islam dari sosok-sosok yang layak tuk diteladani, hingga mereka mengambil teladan dari orang yang salah?” Yang denganlah cara ini, mereka sukses sebabkan umat islam jadi terpuruk.

Kedua, terkecuali kubur berikut bukan dari kubur golongan yang sudah disebut (kubur para Nabi ataupun Solihin). Ulama membagi hukumnya jadi 2 bagian:

Jika kuburan terletak di petak tanah yang dimiliki oleh mayit ataupun pakar warisnya


Maka hukumnya ialah “Makruh”, karena adanya hadits yang melarang untuk membangun sesuatu di atas kubur. Rasulullah saw bersabda:

نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يجصص القبر، وأن يقعد عليه، وأن يبنى عليه

“Sungguh Rasulullah saw. sudah melarang untuk memplester kubur (dengan semen atau selainnya), Duduk di atas kubur dan mendirikan bangunan di atasnya.” (HR. Muslim, no: 970, dari: Sy. Jabir bin Abdullah)

Berdasar bersama dengan hadits ini, Al-Imam Syarwani menyatakan:

ويكره البناء على القبر في حريم القبر وهو ما قرب منه جدا وخارج الحريم هذا في غير المسبلة

“Dimakruhkan membangun sesuatu di atas kubur, baik di atas kubur secara segera atau di dekatnya. (Hal ini semua) Jika kubur bukan berada di pemakaman umum.” (Hsy. Syarwani, 3/189)

Senada bersama dengan ucapan Al-Imam Syarwaniy, perkataan dari Al-Imam Yahya bin Abu Al-Khoir Al-Imraniy:

وإن كان في ملكه جاز له أن يبني ما شاء؛ لأنه لا يضيق على غيره

“Jika kubur berikut berada di dalam kepemilikan mayit, maka diperbolehkan (untuk mengkijingnya) cocok bersama dengan kemauannya. Karena tidak unsur menganggu kemaslahatan orang lain.” (Al-Bayan, 3/110)

Adapun alasan ulama tidak mengharamkan perihal ini (mengkijing makam), bersama dengan dalil hadits ini (larangan Rasulullah saw) karena hak kepemilikan mayit atau pakar warisnya atas petak tanah kuburan tersebut, dan juga tak adanya unsur menganggu (Dhoror) hak orang lain.


Karena Qoidah Fiqh menjelaskan:

لا يمنع تصرف الملاك في ملكه على العادة.

“Pemakaian hak milik oleh pemilik dibolehkan (tidak terlarang), sepanjang pemakaian berikut dikatakan wajar.” (Zad Al-Labib, hal: 198)

Maka yang lebih utama, supaya tidak kijing makam marmer ataupun sebabkan daerah teduh di atasnya, walaupun tanah berikut di dalam lingkup kepemilikannya.

أن عمر – رضي الله عنه – رأى قبة فنحاها وقال دعوه يظله عمله

“Dikisahkan, bahwa suatu saat Sayyidina Umar bin Khottob melihat kubah (tempat teduh di atas kubur), kemudian beliau menghalau daerah teduh itu, seraya berkata, “Biarkanlah amal kebaikannya yang akan menaunginya.” (Ditukil dari kitab: Hsy. Syarwani, 3/197)

Jika kuburan terletak di pemakaman umum

Tidak diperbolehkan, terkecuali tidak tersedia kepentingan atau udzur (alasan yang dibenarkan syari’at) untuk mengkijing makam, contoh kawasan makam yang rawan banjir, atau dikhawatirkan makam itu digali (jika tanpa dikijing) orang lain, sebelum lapuknya mayit.

Pendapat ini dikemukakan oleh Al-Imam Syams Ad-Diin Romli di dalam tuturnya:

ويستثنى من ذلك ما إذا خشي نبشه فيجوز بناؤه وتجصيصه

“(Dikecualikan dari larangan untuk mengkijing makam) terkecuali dikhawatirkan makam berikut digali oleh orang lain (sebelum lapuknya mayit) misalnya tak dikijing.” (Nihayat Al-Muhtaj, 3/34)

Al-Imam Ali Syibromilisy, mengomentari pendapat dari Al-Imam Syams ad-Diin Romly, di dalam tuturnya:

ينبغي ولو في المسبلة…… إلى أن قال….. ومن البناء ما جرت به العادة من وضع الأحجار المسماة بالتركيبة ثم رأيت حج صرح بحرمة ذلك، وينبغي أن محل الحرمة حيث لم يقصد صونه عن النبش ليدفن غيره قبل بلاه

“(Pendapat Imam Romli tentang dibolehkannya mengkijing kuburan bersama dengan alasan kuatir akan perihal tersebut) walaupun kuburan yang tersedia di pemakaman umum.”

Kemudian beliau melanjutkan, “Adapun tradisi orang menaruh bebatuan di lebih kurang kubur yang diiistilahkan bersama dengan ‘Tarkiybah (Kijing)’ bersama dengan alasan berikut (khawatir akan digalinya makam oleh orang lain, misalnya tidak dikijing), maka semestinya untuk tidak diharamkan.” (Hsy. Ali Syibromilisy, 3/34-35)

Adapun terkecuali pemasangan kijing atas kubur tak didasari bersama dengan alasan (udzur) yang sudah disebutkan, maka hukumnya, ‘Haram’.

Alasannya adalah pembatasan atau perampasan hak milik bersama dengan atas tanah pemakaman. Bila kami tarik secara logika, terkecuali seluruh kuburan yang tersedia di wajah bumi ini dikijing, berapa banyak lahan yang mesti disiapkan untuk tanah pemakaman?

قال الشافعي – رحمه الله -: (ورأيت من الولاة من يهدم بمكة ما بني بها، ولم أر من الفقهاء من يعيب عليه ذلك) .

Al-Imam Asy-Syafi’i berkata, “Aku sudah melihat lebih dari satu makam pejabat (yang dikijing dan berada di pemakaman umum) dibongkar di Mekkah. Dan tak ku kektahui satupun dari para ulama dan pakar fiqh yang mengingkari perihal berikut (pembongkaran makam).” (ditukil dari kitab: Al-Bayan, 3/110)

Al-Imam Ali Syibromilisy, menambahkan:

فإن كان بناء نفس القبر بغير حاجة بمسبلة أو موقوفة حرم وهدم وجوبا لأنه يتأبد بعد انمحاق الميت ففيه تضييق على المسلمين بما لا غرض فيه (أه بالتصرف اليسير)

“Jika bangunan (kijing) di atas kubur berikut dibikin bersama dengan tanpa alasan (udzur) yang dibenarkan syariat, sedang kubur berikut terletak di pemakaman lazim atau tanah wakaf, maka tingkah laku berikut Haram dan mesti (bagi pihak berwenang) untuk membongkar kijing tersebut, terkecuali dianggap perihal berikut mempersempit lahan pemakaman.” (Hsy. Ali Syibromilisy, 3/36-38)


Maka kerendahan hati dari Ahli waris, sangatlah dibutuhkan di dalam kasus ini. Karena sebetulnya kenyataan berbicara bahwa tanah pemakaman bukanlah miliknya, namun milik umum.

Maka bersama dengan berat hati, petugas berwenang untuk membongkar kijing tersebut, terkecuali dinilai tak tersedia lahan lagi untuk mayat setelahnya yang hendak dikuburkan.

Leave a comment

Your email address will not be published.